Translate

Sabtu, 08 Februari 2014

Tugas TIK Membuat Contoh Proposal


PROPOSAL KARYA TULIS
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENULIS NARASI di KELAS IX.2 MTsN TANJUNG RAYA


                                   
                                     OLEH         :  SUCI VENITASYA
                                    KELAS     :  IX.2
                                    NISN        :  9988577171
MTsN TANJUNG RAYA
KABUPATEN AGAM
2013 - 2014


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis bisa  menyelesaikan penulisan Proposal Karya Tulis ini yang penulis beri judul “ Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Surat Izin Sesuai dengan Kaedah Penulisan Surat di Kelas IX.2  MTsN Tanjung Raya”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal karya tulis banyak menemui kendala dan hambatan, karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan menulis. Namun kendala itu dapat penulis atasi bekat bantuan berbagai pihak. Atas bantuan yang dimaksud penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1.               Bapak Aidil Kurdhiansyah, S.Pd selaku kepala MTsN Tanjung Raya
2.               Ibu Dra. Rini Mulyati selaku pembimbing I dalam bidang isi
3.               Ibu Dra. Rini Mulyati selaku pembimbing II dalam bidang bahasa
4.               Ibu  Roza Emilda, S.Pt selaku walikelas IX.2
5.               Bapak dan Ibu majelis Guru MTsN Tanjung Raya
6.               Orang tua sebagai pemberi motivasi
7.               Teman-teman kelas IX.2  yang telah banyak memberikan sumbangan pikiran dalam penyusunan proposal karya tulis ini
8.               Segala pihak yang telah membantu penulisan proposal karya tulis ini
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih penuh dengan kekurangan baik dari segi isi maupun penulisan. Kekurangan tersebut muncul karena kelemahan dan keterbatasan pengetahuan maupun kemampuan penulisan pribadi . Disadari atau tidak, hanya dengan bantuan pembaca yang berupa, teguran, saran, kritik atau yang lain, kekurangan-kekurangaan tersebut dapat diperkecil sehingga tulisan ini akan dapat memberikan manfaat yang maksimal. Oleh karena itu, bantuan pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan tulisan di masa yang akan datang.

Koto Kecil,            2013

Penulis 


















HALAMAN PENGESAHAN

Judul            : Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Narasi
Penulis         : SUCI VENITASYA
Kelas            : IX. 2
NISN            : 9988577171
Sekolah        : MTsN Tanjung Raya
       Koto Kecil,

Suci Venitasya
NISN : 9988577171
MENGETAHUI
          PEMBIMBING II,                                                              PEMBIMBING I,

      Dra. Rini Mulyati                                                                   Dra. Rini Mulyati
    NIP: 1968041519960320001                                                   NIP:196804151996032001
WALI KELAS

Roza Emilda, S.Pt
NIP :

DAFTAR ISI

BAB I  : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah………………………………………………..…1
B.     Identifikasi Masalah…………………………………………….…………3
C.    Pembatasan Masalah………………………………………………………3
D.    Perumusan Masalah……………………………………………...………..3
E.     Tujuan Penelitian…………………………………………………….……4
F.     Manfaat Penelitian…………………………………………………….…..4

BAB II : KAJIAN PUSTAKA
A.    Kajian Tori………………………………………………….……………..5
-          Hakikat Tulisan Narasi………………………...……………………..5
-          Hakikat Penalaran ……………………………………………...…….7
B.     Penelitian yang Relevan…………………………………………………..9
C.    Kerangka Konseptual…………………………………………………….9

BAB III : METEDOLOGI PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian…………………………………….……………………..11
B.     Populasi dan Sampel……………………………………………………..11
C.    Variable dan Data………………………………………………………..12
D.    Instrument Penelitian…………………………….………………………12
E.     Teknik Pengumpulan Data………………………..…………………….15
F.     Teknik Analisis Data……………………………………………………..15
























BAB I
                                               PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Menulis  pada hakikatnya memproduksi kembali informasi  dan ide-ide ke dalam tulisan. Dengan menulis , seseorang dapat menggambarkan pola pikirannya dan menceritakan pengalaman yang dialami oleh seseorang kemudian menuangkan informasi dan ide-ide tersebut dalam sebuah tulisan. Salah satu tulisan yang menggambarkan pola pikiran dan menceritakan sesuatu hal adalah tulisan narasi atau karangan narasi.
Menulis karangan narasi merupakan kemampuan yang harus dikuasai siswa. Hal ini disebabkan menulis narasi merupakan salah satu materi yang di pelajari oleh siswa. Sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang berlaku saat ini, siswa di tuntut lebih aktif dalam proses pembelajaran. Hal yang dapat menunjang dalam proses pembelajaran agar tidak membosankan salah satunya dengan pemilihan teknik pembelajaran yang tepat yang diterapkan oleh guru mata pelajaran, khususnya guru bahasa Indonesia. Dalam menulis narasi siswa harus mampu bernalar dengan baik karena pemakaian pola penalaran berkaitan erat dengan kemampuan mengembangkan tulisan.
Bagus tidaknya sebuah tulisan narasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan bernalar siswa. Dari prosesnya penalaran dapat dibedakan atas  (1) penalaran induktif , dan (b) penalaran deduktif.  Penalaran induktif merupakan proses penalaran  untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus, dan prosesnya disebut induksi.  Sedangkan penalaran deduktif  adalah proses penalaran yang bertolak dari satu proposisi yang sudah ada menuju kepada  suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan.  Penalaran induktif sangat berpengaruh terhadap tulisan narasi .
Berdasarkan wawancara yang dilakukan secara formal, ditemui adanya kesulitan yang dialami oleh siswa dalam latihan menulis karangan Narasi. Yang menjadi kesulitan utama  bagi siswa dalam menulis adalah mencari ide dan mengembangkan ide . dari hasil wawancara, didapatkan permasalahan yang dialami siswa dalam mengembangkan penalaran  menjadi sebuah tulisan narasi. Permasalahannya yaitu rendahnya  daya nalar siswa, sehingga mempengaruhi siswa dalam menulis karangan narasi.
Permasalahan tersebut, disebabkan kurangnya minat baca siswa, sehingga mempengaruhi kemampuan bernalar. Siswa kesulitan dalam menemukan ide-ide  dan menceritakan suatu pengalaman tertentu. Hal ini menyebabkan siswa kurang berminat dalam menulis karangan narasi. Siswa juga kurang mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal ini bisa dilihat dari pilihan kata yang kurang tepat, kalimat yang kurang efektif, bahkan kurang mampu dalam mengembangkan ide secara teratur dan sistematis, sehingga hal tersebut menjadi kendala dalam pembelajaran menulis.
Banyak siswa yang tidak menyukai pelajaran menulis karena mereka menganggap bahwa menulis adalah hal yang sulit, sehingga siswa cenderung asal-asalan dalam mengerjakan latihan menulis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru mata pelajaran telah berupaya memberikan latihan menulis berbagai jenis tulisan sesuai dengan materi ajar namun masih ditemui siswa  yang salah dalam bernalar atau pun tidak luas dalam mengembangkan penalaran.
Kemampuan bernalar merupakan kemampuan dasar yang penting dimiliki siswa. Hal ini disebabkan setiap proses kegiatan belajar mengajar membutuhkan penalaran yang baik. Dengan kemampuan bernalar, siswa akan melakukan suatu proses berfikir dan menghubungkan fakta dan data yang ada sehingga sampai kepada suatu kesimpulan.
Akhadiah, dkk. (1998 : 43) menyatakan bahwa dalam menulis tidak dapat dipisahkan dari proses pemikiran atau penalaran khususnya pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, empat aspek keterampilan berbahasa pun melibatkan aspek bernalar. Kemampuan bernalar memiliki hubungan dengan kemampuan menulis karangan narasi., karena dalam menulis karangan narasi siswa harus mampu menceritakan urutan kejadian secara kronologis tentang sesuatu hal dan siswa harus mampu mengembangkan penalarannya untuk mengungkapkan hal tersebut.

B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat di identifikasikan masalah dalam pembelajaran menulis siswa. Pertama, siswa kurang menguasai materi pendukung  sebagai modal dasar seperti ejaan, diksi dan penyusunan kalimat secara sistematis. Kedua, siswa sulit mengembangkan ide tulisan karena daya nalar yang rendah. Ketiga, kurangnya minat siswa dalam menulis karangan narasi. Keempat, siswa kurang berminat membaca tulisan atau karangan sehingga mengembangkan ide atau gagasan dalam penalaran induktif.

C.      Pembatasan Masalah
          Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, permasalahan penelitian ini dibatasi pada hubungan kemampuan penalaran induktif dengan kemampuan menulis karangan Narasi siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya.

D.  Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut, rumusan masalah penelitian ini ada tiga.
1.      Bagaimanakah kemampuan penalaran induktif siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya
2.      Bagaimanakah kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya
3.      Bagaimanakah hubungan kemampuan penalaran induktif dengan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya.
.
E.   Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dikemukakan tujuan penelitian  sebagai berikut. Pertama, menjelaskan kemampuan penalaran induktif siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya. Kedua, menjelaskan kemampuan menulis karangan nara`si siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya. Ketiga, menganalisis hubungan kemampuan  penalaran induktif  dengan kemampuan menulis karangan narasi siswa IX.2 MTsN Tanjung Raya.
F.                 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Pertama, guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia , khususnya guru kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya, sebagai informasi dalam merancang pembelajaran dalam menulis karangan narasi.  Kedua, siswa kelas IX.2 MTsN Tanjung Raya, sebagai informasi untuk mempelajari keterampilan menulis karangan narasi dan meningkatkan kemampuan penalaran induktif yang baik dalam menulis. Ketiga, bagi peneliti, sebagai bahan kajian akademik dan pengetahuan lapangan.





BAB II
                                              KAJIAN PUSTAKA

A.  Kajian Teori
Berkaitan dengan masalah penelitian, teori yang akan diuraikan adalah teori  yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Teori yang dimaksud yaitu (1) Hakikat tulisan Narasi dan (2) hakikat penalaran.

1.     Hakikat Tulisan Narasi
Teori yang akan dijelaskan  pada tulisan narasi adalah (a) pengertian tulisan Narasi (b) Ciri-ciri tulisan Narasi, (c) langkah-langkah menulis karangan narasi.
a.        Pengertian tulisan narasi
Menurut Atmazaki (2006 : 90) narasi adalah cerita yang didasarkan atas urutan serangkaian kejadian atau peristiwa. Di dalam  kejadian itu, ada satu atau beberapa tokoh dan tokoh tersebut  mengalami serangkaian peristiwa.
Ermanto dan Emidar (2009 : 146) mengemukakan  narasi adalah paragraf  yang berisi cerita tentang suatu kejadian yang dialami tokoh, baik orang maupun binatang dalam kehidupan.  Kadang-kadang tokoh yang diceritakan dapat pula tumbuhan atau benda mati yang seolah-olah bisa berbicara seperti manusia. Artinya paragraf narasi  selalu berisi peristiwa kehidupan yang dialami oleh tokoh yang diceritakan. Jadi disebut paragraf narasi  hanya karena dibuat untuk menceritakan peristiwa kehidupan suatu tokoh dengan media bahasa.

b.   Ciri-ciri tulisan narasi
Menurut Hasanuddin WS ( 2010 : 53), sebuah tulisan narasi mempunyai ciri-ciri (1) berupa cerita atau pengalaman, (2) peristiwa atau kejadian yang disampaikan dapat berupaperistiwa yang benar-benar terjadi, tetapi dapat pula berupa khayalan belaka atau gabungan dari keduanya, (3) adanya jalinan konflik, karena tanpa konflik biasanya narasi tidak menarik, (4) memiliki nilai estetika (indah) karena isi dan penyampaiannya bersifat sastra, khususnya narasi yang berbentuk fiksi, (5) menekankan susunan kronologis atau urutan waktu dan sebab akibat, (6) memiliki dialog.
Menurut keraf (2000 : 136),  ciri-ciri karangan narasi (1) menonjolkan unsure pembuatan atau tindakan, (2) dirangkai dalam urutan waktu, (3) berusaha menjawab pertanyaan “apa yang terjadi?”, (4) ada konfiks.

c.    Langkah-langkah menulis karangan narasi
Menulis tulisan narasi memiliki langkah-langkah tertentu yang berbeda dengan karangan lainnya. Untuk mrnyusun tulisan narasi  sebaiknya haruslah memperhatikan petunjuk berikut. Pertama, tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan, (2) tetapkan sasaran pembaca, (3) rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur, (4) bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan dan akhir cerita, (5) rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa  sebagai pendukung cerita, (6) susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.

2.    Hakikat Penalaran
Teori yang akan dijelaskan pada penalaran adalah (a) defenisi penalaran, (b) jenis-jenis pola penalaran, (c) salah nalar.
a.        Defenisi penalaran
Penalaran adalah proses penyimpulan yang didasarkan atas sejumlah pernyataan yang diketahui dan dianggap benar sehingga diperoleh pernyataan baru yan sebelumnya tidak diketahui.  Konsep akan penalaran ini juga dinyatakan oleh Keraf (1994 : 49) penalaran dsebut juga dengan jalan pikiran turut menentukan baik tidaknya kalimat seseorang dan mudah tidaknya pikirannya dapat dipahami. Dalam terjadi suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang masuk akal dan logis berdasarkan pernyataan-pernyataan logis.
Keraf (1997 : 5) menambahkan bahwa penalaran tidak dapat dilakukan dengan hanya menggunakan fakta yang berbentuk polos, tetapi juga dapat dilakukan dengan menggunakan fakta yang telah dirumuskan  dalam kalimat yang berbentu pendapat atau kesimpulan. Kalimat-kalimat tersebut jika dihubungkan dengan proses berpikir  disebut proposisi.  Proposisi dalam hal ini dibatasi sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak kebenarannya sehubungan dengan kesalahan yang terkandung di dalamnya.
Arifin dan tasai (2008 : 139) menyatakan bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan data atau fakta yang ada  sehingga menyatakan data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar hal inilah yang dinyatakan kerja dan penalaran.
Dengan demikian, dalam tulisan narasi kemampuan bernalar yang benar  menjadi suatu hal yang penting. Hal ini dapat dilihat dari segi pola penalaran, ketepatan bernalar dengan menghindarkan adanya salah nalar. Pemakaian pola penalaran dalam tulisan berhubungan dengan pengembangan tulisan dengan pola induktif  dan pola deduktif.
b.        Jenis-jenis Pola Penalaran
Keraf (1997) membagi pola penalaran atas dua yaitu penalaran induktif dan deduktif.  Akhadiah, dkk (1998 : 41) mengungkapkan bahwa penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan yang berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Akhadiah ,dkk (1998 : 41-42) menambahkan penalaran induktif  merupakan generalisasi, yaitu proses penalaran yang berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala yang sama, maksudnya kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik  berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan.
Keraf (1997 : 57) penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir  atau penalaran yang bertolak  dari satu proposisi yang sudah ada, menuju kepada satu proposisi yang baru  yang berbentuk kepada suatu kesimpulan.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif merupakan suatu proses berpikir manusia dalam menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang bertolak dari pernyataan yang khusus dan  menghasilkan kesimpulan yang umum.
c.    Salah Nalar
Arifin dan Amran (2008 : 155) menyatakan salah nalar merupakan gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang keliru atau cacat. Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan mengikuti mengikuti tata cara pikirannya.
Arifin dan Amran (2008 : 156-159) memilah bentuk salah nalar menjadi delapan macam, (1) deduksi yang salah, (2) generalisasi yang terlalu luas, (3) penilaian terbatas pada dua alternatif, (4) penyebab yang salah nalar, (5) analogi yang salah, (6) argumentasi bidik orang, (7) meniru yang sudah ada,  dan (8) penyamarataan para ahli.
Keraf (1997 : 85-88) memberikan enam macam salah nalar yaitu, (1) generalisasi sepintas lalu, (2) analogi yang pincang, (3) semua alih-alih berapa, (4) kesalahan hubungan kasual, (5) kesalahan karena tidak mengerti persoalan, dan (6) argumentum dan hominem (pembuktian ditujukan kepada manusianya).

B.  Penelitian yang relevan
Penelitian yang akan dilakukan ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode exprimen. Peneliti menfokuskan penelitian mengenai hubungan kemampuan penalaran induktif dengan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA.

C.  Kerangka Konseptual
Pada dasarnya tulisan yang berkualiatas ditentukan oleh banyaknya bacaan yang dibaca, oleh karena itu menulis adalah aspek kebahasaan yang dapat membantu siswa dalam menuangkan idenya dalam bentuk tulisan, salah satunya adalah tulisan Narasi. Hal yang harus diperhatikan dalam menulis karangan narasi  adalah proses penalarannya. Penalaran yang baik dapat dilihat dari kemampuan mengembangkan jenis penalaran induktif dan deduktif.
Pada penelitian ini, penulis hanya meneliti  hubungan kemampuan penalaran induktif dengan kemampuan menulis karangan Narasi siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA.
Uraian tersebut dapat ditulis dalam bentuk kerangka konseptual berikut :

Kemampuan Penalaran Induktif
(Variabel  X)

Kemampuan Menulis Narasi 
(Variabel Y)




Keterangan :
X : Kemampuan penalaran induktif
Y : Keterampilan menulis narasi











BAB III
                                  METODOLOGI PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
       Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Disebut kuantitatif karena data yang akan dikumpulkan berupa angka dan dianalisis dengan rumus statistik. Dalam penelitian ini angka-angka berasal dari skor kemampuan penalaran induktif dan kemampuan menulis narasi siswa kelas X SMA Negeri 1 Rao.
       Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Dalam penelitian ini dideskripsikan data tentang kemampuan penalaran induktif dan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA.
B.       Populasi dan Sampel
     Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA pada tahun 2011/2012. Jumlah siswa kelas IX.2  keseluruhan adalah  33 siswa, perlu adanya teknik penarikan sampel  penelitian. Sampel diambil dengan menggunakan teknik persentase  secara acak (proportional  random sampling). Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA yang diambil 15,15 % dari populasi perkelas yaitu berjumlah 5 orang.
Untuk lebih jelasnya mengenai populasi dan sampel, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1
Populasi dan sampel

No
Kelas
Populasi
Sampel
1
IX.2
33 orang
5 orang

C.  Variabel dan Data
Penelitian ini memiliki dua variabel berupa variable bebas (X) dan variabel terikat (Y). variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan penalaran induktif siswa IX .2 MTsN TANJUNG RAYA, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis  narasi  siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian  ini adalah data kuantitatif  karena data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka data tersebut  adalah kemampuan menulis narasi siswa kelas IX .2 MTsN TANJUNG RAYA.

D.  Instrumen Penelitian
       Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif  dan tes unjuk kerja. Tes objektif gunakan untuk mengumpulkan data kemampuan penalaran induktif, sedangkan tes unjuk kerja digunakan untuk mengumpulkan data keterampilan menulis narasi.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan tes adalah sebagai berikut (1) menjelaskan defenisi dan unsur-unsur pokok dalam tulisan narasi, (2) siswa diminta menulis karangan berbentuk narasi, (3) memberi penilaian berdasarkan indikator  yang dinilai.
Untuk melihat validitas item dan realibilitas tes,  akan diuraikan sebagai berikut .
1.     Validitas  Item
     Validitas dapat diartikan sebagai tingkat kesahihan  suatu tes. Menurut Abdurahman dan Ratna (2003 : 1790 ), tes yang sahih atau tes yang memiliki  kadar  validitas yang tinggi adalah tes yang isinya layak mengukur objek yang akan diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu, adanya relevansi antara tes dengan fungsi  dan sasaran pengukurannya. Tes yang memiliki validitas yang tinggi   di bangun oleh validitas item yang tinggi pula. Abdurahman dan Ratna (2003:194),  menambahkan untuk menentukan validitas item dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Product memperson Biserial berikut.
Keterangan :
rpbi : validitas item yang dicari
Mp  : rerata skor tes yg menjawab benar
Mt : rerata skor total
St : standar deviasi
 p : rerata tes yang menjawab benar
q : rerata skor yang menjawab salah
2. Reliabilitas Tes
Reliabilitas dapat diartikan sebagai tingkat kepercayaan, ketetapan, atau keterandalan. Sebuah tes dikatakan memiliki tingkat keterandalan  yang tinggi kalu tes tersebut hasilnya relatif tetap atau kurang lebih sama (Abdurahman dan Ratna, 2003 : 198). Tes dikatakan reliabel bila tes itu diuji lebih dari satu kali pada kelompok testi yang sama hasilnya tidak berubah.
Menentukan reliabilitas tes dapat digunakan rumus korelasi roduct momentdan sperman borwn berikut ini.
Rxy =

Keterangan :
Rxy : koefesien korelasi antara variabel X dan Y
n : jumlah sampel
x : skor item ganjil
y : skor item genap
rumus product moment untuk menentukan reliabilitas separo tes, setelah itu dimasukkan kedalam rumus Sperman borwn berikut.
r=
keterangan :
r         : reliabilitas seluruh tes
 : reliabilitas separo tes
E.     Teknik Pengumpulan Data
             Data dikumpulkan dua kali. Tes pertama diberikan kepada siswa tes objektif sebanyak 10 butir soal. Tes narasi dilaksanakan sehari sesudahnya. Sebelum menulis narasi siswa terlebih dahulu diberi arahan bagaimana langkah-langkah dalam menulis karangan narasi dan bagaimana penilaiannya. Setelah itu siswa disuruh menulis karangan narasi dengan memilih salah satu tema yang telah ditentukan sebelumnya.

F.     Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis melalui tahap-tahap berikut. Pertama, mengoreksi hasil tulisan siswa. Menganalisis data  berupa kemampuan penalaran induktif  dalam tulisan narasi.
Menurut abdurahman dan Elya Ratna ( 2003 :264) untuk menentukan tingkat penguasaan kemampuan bernalar siswa  dalam menulis digunakan rumus persentase berikut ini.

N =
 Keterangan :
     N            : tingkat penguasaan
     SM           : Skor yg diperoleh siswa
     SI             : Skor yang harusdi capai
     S maks  : skala yang digunakan (100).
Berdasarkan rata-rata nilai dan konversi nilai hasil kemampuan menulis narasi ke tabel skala 10 Abdurahman da Ratna (2003 : 256). Kemudian mencari rata-rata hitung kedua kemampuan tersebut dengan rumus berikut.
            M =
Keterangan :
M         : mean atau rat-rata hitung
Fx : jumlah skor dikalikan frekuensi
N : jumlah sampel.
Kemudian mengkorelasikan dua variabel yaitu kemampuan penalaran induktif dengankemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan rumus produt moment. Setelah itu melakukan uji hipotesis dengan rumus sebagai berikut.
Keterangan :
t           :besaran pengujian hipotesis
n          : jumlah sampel
r           : koefesien korelasi
Kemudian membahas hasil analisis dan menyimpulkan hasil pembahasan.




DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman dan Ellya Ratna. 2003. Evaluasi Pembelajaran Bahasa  dan Sastra Indonesia. Buku ajar. Padang : FBSS UNP.
Akhadiah, sabarti. Dkk. 1988. Materi Dasar Pengajaran Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.
Arifin, E. Zainal dan Amran Tasai. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Akademika Pressindo.
Atmazaki. 2006. Kiat-kiat Mengarang dan Menyunting . Padang ; Citra Budaya Indonesia.
Ermanto dan Emidar. 2009. Bahasa Indonesia Pengembangan di Perguruan Tinggi. Padang : UNP Press.
Hasanuddin WS.  2110. Paham dan Terampil Berbahasa dan Sastra Indonesia. Bandung : Dian Aksara Press.
Keraf, gorys. 1997. Argumentasi dan Narasi.  Jakarta : PT Gramedia.
Keraf. Gorys. 1994. Komposisi. Ende, Flores : Nusa Indah.
Waluyo, herman j. 1994. Penelitian Pedidikan bahasa dan Sastra. Surakarta : Sebelas Maret University Press.